Program ini merupakan orientasi sosial & budaya di pedesaan. Peserta diberi kesempatan untuk hidup bersama penduduk dan bersama anggota keluarga merasakan kegembiraan dan harapan serta berpartisipasi dalam aktifitas hidup harian.Tujuan program untuk mengembangkan daya juang pribadi sebagai individu yang sadar, tanggap dan tangguh serta memiliki respon yang tinggi dalam berpartisipasi dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bersama.
Metode yang digunakan dalam program ini adalah Observasi Partisipatoris. Pada tahap Pertama peserta tinggal dan hidup bersama dengan penduduk lokal seperti telah disebutkan di atas. Pada tahap berikut adalah tinjauan atau refleksi ilmiah. Para peserta berdiskusi dan sharing pengalaman yang mereka dapat selama tinggal dan hidup bersama dengan warga setempat. Tahap akhir , peserta menyusun sebuah rencana dan strategi aksi bersama sebagai sebuah tindakan konkret alternatif yang menjadi bentuk tanggungjawab dan partisipasi peserta terhadap kelangsungan hidup bersama.
Batik Cultural Exposure
Merupakan program pengenalan simbol-simbol budaya yang dituangkan dalam seni batik. Program ini mengajak peserta didik untuk menggali dan mengungkap dimensi seni, filosofis, dan historis dari batik dengan mengunjungi pusat-pusat kerajinan batik dan Museum batik di berbagai daerah di Jawa Barat (Tasikmalaya), JawaTengah (Cirebon & Pekalongan), Solo dan Yogyakarta. Objektif dari program ini adalah (sebagai out put) peserta didik disamping dapat mengetahui proses membatik juga dapat melihat dan menemukan kaitan antara ekspresi seni dan makna simbol budaya yang terkandung didalamnya.
Historical Temple Exposure
Program ini melibatkan siswa dalam sebuah peristiwa sejarah pelestarian situs candi-candi yang ada di Jawa Tengah, Yogyakarta dan sekitarnya. Peserta didik diikutsertakan dalam proses pengangkatan sebuah candi dan dibantu petugas dari Dinas Purbakala setempat mulai dari eskavasi, relokasi dan restorasi. Dalam kegiatan ini peserta didik melakukan upaya pelestarian budaya dan menjadi pelaku sejarah sekaligus menumbuhkan kesadaran akan identitas bangsa.
Metode Experiencial Learning
Ketiga program Field Trip menggunakan metode Experience Learning; melalui proses pembelajaran ini individu dapat menyusun pengetahuan, mendapatkan keterampilan dan menemukan makna dari pengalaman (Association for Experiental Education). Sebagai out put dari program di atas, setiap peserta belajar untuk membuat sebuah karya ilmiah berupa artikel, catatan perjalanan, feature atau pun sebuah refleksi pengalaman yang memiliki bobot akademik. Untuk karya terbaik dapat diajukan ke redaksi media cetak untuk dipublikasikan.
